Habiburrahman El-Shirazy : Bukan kecewa pada Chaerul Umam, tapi…

Keputusan Habiburrahman El Shirazy (33) untuk menyutradarai Dalam Mihrab Cinta (DMC) menimbulkan banyak pertanyaan. Salah satunya, Kang Abik, begitu ia kerap disapa, bukanlah sineas melainkan novelis. Penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih ini pun bukan lulusan sinematografi ketika kuliah di Mesir. Spekulasi yang muncul, Kang Abik kecewa pada kinerja Chaerul Umam saat menyutradarai Ketika Cinta Bertasbih [KCB) tahun lalu. “Pada dasarnya saya menyukai tantangan. Seingat saya, sudah ada dua rumah produksi yang melamar DMC untuk difilmkan, tapi saya sudah menjatuhkan pilihan. Ketika ditantang menjadi sutradara, saya rasa tantangan itu perlu dijawab,” ucapnya di Istora Senayan Jakarta, akhir pekan lalu.

Selama satu tahun Kang Abik mengawal Umam. Dari situlah, Kang Abik “mencuri” ilmu penyutradaraan. Ilmu yang digunakannya untuk menyutradarai film. “Ini bukan bentuk kekecewaan saya pada Pak Mamang (panggilan akrab Umam-red). Ketika kesempatan datang, sebaiknya saya memanfaatkannya dengan bijaksana,” tutur Kang Abik. Untuk merealisasikan mimpi menjadi sutradara, Kang Abik telah menyurvei beberapa lokasi syuting sejak tahun lalu. Empat kota yang dipilih, Semarang, Kediri, Pekalongan, dan Jakarta. Beban yang disandang Kang Abik tidak ringan. Konon, ia ditargetkan produser mendatangkan 50 persen penonton KCB.

Tantangan lain yang ingin dijawab Kang Abik, membuat novel sejarah dan merilis DMC versi roman. Keputusan Kang Abik mengemas ulang DMC versi roman membuat bingung para pembacanya. Apa bedanya novel dengan roman? “Kalau novelette itu lebih panjang dari cerpen, lebih pendek dari novel. Roman pun sejenis novel. Beberapa sastrawan menyebut roman itu novel juga. Roman bisa saja menceritakan kehidupan seseorang dari masa remaja sampai tutup usia, look like biografi. Misal-nya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, langsung bisa disebut roman. Tapi, itu bukan definisi yang kaku. Bahkan, banyak sastrawan yang menyebut novel berbau cinta itu roman. Karena roman begitu dekat dengan kata romantic,” urainya. Terlepas dari roman atau bukan, yang penting para penggemar bisa menikmati alur cerita Kang Abik.

(BINTANG INDONESIA, Edisi 984, IV Maret 2010)